Oktober 21, 2021

Belajar Energi

BelajarEnergi.com – Belajar Energi adalah Hak Segala Bangsa

Wow! Indonesia Kaya Potensi Energi Baru Terbarukan hingga 509 GW! Belajar Energi

Wow! Indonesia Kaya Potensi Energi Baru Terbarukan hingga 509 GW!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BelajarEnergi.com – Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya energi, tak terkecuali energi baru terbarukan (EBT). Energi baru merupakan energi yang dihasilkan dari teknologi baru, sedangkan energi terbarukan merupakan energi yang didapat dari proses alam yang berkelanjutan yang artinya energi tersebut dapat dipulihkan kembali dengan cepat secara alami.

Tentunya sangat tidak bijaksana apabila dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan kita masih menggantungkan diri ke minyak, karena cadangan terbukti minyak bumi Indonesia hanya sebesar 3,5 miliar barel dengan produksi saat ini sebesar 750.000 bph dan berasumsi tidak ada penemuan cadangan baru maka akan habis dalam kurun waktu 10 tahun. Apabila hal tersebut tidak diberi perhatian khusus, maka bisa dipastikan hidup kita akan sulit dan sangat merugikan perekonomian negara. Maka dari itu, pemanfaatan energi baru terbarukan secara masif mutlak dilaksanakan agar terhindar dari bencana tersebut.

Baca juga: Selayang Pandang Tentang Energi 

Sumberdaya dan Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan

Energi baru terbarukan ini yaitu energi yang dihasilkan dari panas bumi, air, ombak, pasang surut, angin, biomassa, biofuel, matahari (surya), maupun teknologi nuklir. Energi baru terbarukan di Indonesia masih sangat kaya dan masih sangat sedikit dimanfaatkan (Tabel 1).

Berdasarkan hasil publikasi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM (2020) & BPPT (2019), diperkirakan bahwa potensi energi surya mencapai 207 GW, kemudian disusul energi air sebesar 94 GW (terbesar di dunia), energi angin sebesar 60 GW, energi panas laut sebesar 41 GW, bioenergi sebesar 32,6 GW, energi panas bumi sebesar 28,9 GW (40% di dunia), energi arus laut sebesar 17,9 GW, energi pasang surut sebesar 4,8 GW, uranium untuk nuklir sebesar 3 GW, dan energi gelombang laut sebesar 1,9 GW. Total potensi dari energi baru terbarukan tersebut berjumlah 508,9 GW. Namun, pemanfaatannya masih sangat kurang yaitu hanya sebesar 9.666 MW untuk kapasitas terpasang atau hanya 1,99% dari total potensinya.

Sektor yang terbesar dalam menyumbang kapasitas terpasang EBT adalah energi air/hidro yaitu 5.180 MW atau capaiannya sebesar 6,91% terhadap potensi total. Energi hidro ini cenderung lebih mudah dimanfaatkan karena letaknya mengikuti sebaran aliran permukaan seperti sungai atau air terjun. Selain itu, sektor terbesar kedua adalah energi panas bumi yang kapasitas terpasangnya mencapai 2.131 MW atau capaiannya sebesar 7,37% terhadap potensi total. Kondisi geografis dan geologis Indonesia yang merupakan jalur cincin gunungapi dunia menjadi keuntungan tersendiri dalam pemanfaatan energi ini.

Sumberdaya dan Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (KESDM, 2020 & BPPT, 2019)
Tabel 1. Sumberdaya dan Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (KESDM, 2020 & BPPT, 2019)

Target Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi Nasional serta Permasalahan yang Terjadi

Target Bauran Energi Nasional berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) adalah bahwa pada tahun 2025 pemanfaatan EBT mencapai 23% (26,45 GW) dan pada tahun 2050 menjadi 31% (133,3 GW). Realisasinya pada tahun 2018 masih mencapai 8,55% (5,35 GW). Menurut laporan Institute for Essentials Service Reform (IESR) (2020), EBT hanya menyumbang 12,2% dari bauran kapasitas terpasang di tahun 2019. Padahal pada RPJMN disebutkan bahwa target bauran EBT adalah 16% (17 GW) dan pada RUEN disebutkan targetnya adalah 17,5% (13,9 GW).    

Penyebab utama tidak tercapai target pemanfaatan energi terbarukan nasional ini dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu:

  1. Kebijakan pemerintah terkait dengan energi terbarukan masih belum memiliki perhatian khusus dan perubahan regulasi yang seringkali terjadi.
  2. Regulasi yang tidak mendukung (tarif tidak menarik/ekonomis & alokasi risiko yang tidak seimbang) seperti pengenaan biaya Feed in Tariff (FiT) yang masih sama untuk semua jenis energi (seharusnya berbeda-beda) & dasar pengenaan. FiT adalah Biaya Pokok Produksi Tenaga Listrik (BPP) PLN bukan HPP dari tiap jenis energi
  3. Biaya produksi dan pengembangan energi terbarukan relatif masih tinggi (karena teknologinya tinggi) sehingga kurang menarik bagi investor nasional maupun asing.
  4. Kurang kompetitifnya harga energi terbarukan (seperti biomassa dan biofuel terhadap harga BBM karena tidak mendapat subsidi dari pemerintah sehingga membuat masyarakat lebih memilih menggunakan BBM yang lebih murah.
  5. Proses bisnis yang tidak konsisten
  6. Masih rendahnya SDM di daerah-daerah yang memiliki potensi energi terbarukan sehingga tidak bisa dimanfaatkan.
  7. Komitmen pemerintah dalam mencapai target

Investasi pada EBT mengalami stagnasi yang mana hanya mencapai 65% (1,17 M USD) dari target yang ditetapkan di tahun 2019 (1,8 M USD). Panasbumi hanya mencapai 42% (518 juta USD) dari target 1,23 M USD). Energi surya juga di bawah target.

Solusi Memajukan Energi Baru Terbarukan

Melihat berbagai permasalahan yang terjadi, ada beberapa solusi yang ditawarkan agar pengembangan energi terbarukan dapat berjalan lebih efektif dan sesuai dengan rencana strategis kebijakan negara, yaitu:

  • Adanya dukungan dari pemerintah terkait insentif pengembangan terhadap pelaku bisnis bidang energi terbarukan sehingga para investor akan banyak melirik dan semangat dalam mengembangkan energi tersebut.
  • Pemerintah harus meningkatkan SDM dalam negeri melalui pemberian beasiswa studi atau pelatihan-pelatihan pengembangan energi tersebut sehingga dapat mengurangi ketergantungan tenaga asing.
  • Adanya subsidi untuk bahan bakar berbasis bioenergi sehingga masyarakat mulai melirik bahan bakar tersebut sebagai substitusi BBM.
  • Perlu didorong partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat melalui sosialisasi masif untuk mengembangkan energi terbarukan sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing.
  • Perlu dipercepat infrastruktur energi terbarukan sesuai dengan roadmap bauran energi visi 2025 & 2050.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa peningkatan pemanfaatan energi terbarukan bersifat segera karena mengingat cadangan bahan bakar fosil yang semakin lama semakin menipis. Energi terbarukan memiliki banyak keuntungan dari pemanfaatannya. Selain dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, energi ini juga murah, mudah didapatkan, bebas polusi dan bersifat berlanjut (sustainable).

Maka dari itu dibutuhkan suatu strategi khusus dari pemerintah dan masyarakat agar pengembangannya efektif dan efisien, sehingga diharapkan energi terbarukan ini mampu menjadi pendukung bagi ketahanan energi nasional.

Penulis: Riko Susetia Yuda


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •