Oktober 21, 2021

Belajar Energi

BelajarEnergi.com – Belajar Energi adalah Hak Segala Bangsa

Sampah menjadi Energi (pxhere.com)

Mengelola Sampah Menjadi Energi, Siapkah Indonesia?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BelajarEnergi.com – Seiring berjalannya waktu, peningkatan jumlah penduduk yang ada di dunia terus bertambah. Bahkan di perkirakan pada tahun 2030 jumlah populasi manusia di dunia mencapai 8,5 Miliar. Dari peningkatan populasi tersebut menyebabkan volume sampah akan terus meningkat juga. Nah untuk itu, berbagai macam cara dilakukan agar sampah-sampah yang sudah tidak terpakai tersebut bisa di daur ulang kembali. Metode-metode yang ada sampai sekarang terkait manajemen sampah sudah banyak ditemukan yaitu sampah menjadi energi listrik. Bahkan di sebagian wilayah di dunia sudah melaksanakan berbagai macam metode untuk memanajemenkan sampah yang dihasilkan oleh penduduknya. Maka dari itu, dalam tulisan ini kita akan sedikit banyak bahas bagaimana sampah tersebut bisa di manfaatkan menjadi sumber energi bagi manusia.

Sampah Menjadi Energi

Sampah menjadi energi adalah terkait pengolahan sampah menjadi salah satu sumber energi terutama listrik untuk digunakan oleh seluruh umat manusia. Sampah menjadi energi adalah sebuah kampanye peduli lingkungan yang harus terus digalakkan. Sampah dikelola sedemikian rupa agar bisa menjadi energi listrik yang tentu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemerintah Indonesia pada 2016 merasa sejalan dan setuju dengan ide tersebut. Persetujuan itu ditandai dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 18 tahun 2016 dan No. 97 tahun 2017. Pemerintah sendiri sudah mengajukan keinginan untuk membangun Insenerator di 12 kota di Indonesia.

Kota-kota tersebut antara lain adalah Bandung, Surabaya, Semarang, Solo, Bekasi, Manado, Jakarta, Denpasar, Palembang, Makasar, Tangerang, dan Kalimantan. Buat kalian yang tidak tahu insenerator, insenerator adalah teknologi pengolahan sampah dengan cara dibakar pada suhu minimal 1000o C. Dari hasil pembakaran tersebut menciptakan residu atau produk sisa berbentuk debu beracun atau toxicash, flue gas (CO2, H2O).  Beberapa aktivis lingkungan merasa aneh dan sedih dengan ide tersebut. Mengapa begitu? Karena ide tersebut di luar negeri saja sudah tidak terpakai. Sudah ditinggalkan dan merasa sudah tidak relevan.

Sampah menjadi Energi (Sumber: Francis Ray dari Pixabay)
Gambar 1. Sampah menjadi Energi (Sumber: Francis Ray dari Pixabay)

Jumlah Volume Sampah di Indonesia

Sejalan dengan peningkatan populasi penduduk di indonesia, peningkatan volume sampah juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dilansir dari idntimes.com. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan pada 2020 volume sampah nasional di Indonesia mencapai 67.8 juta ton sampah. Angka tersebut cukup memprihatinkan. Tapi sejalan juga dengan peningkatan populasi masyarakat di Indonesia.

Volume sampah di dunia pun sama dari sisi peningkatan secara umumnya. Bahkan negara sekelas China atau India menjadi masalah besar terkait sampah di sana. KLHK sendiri menyebutkan bahwa permasalahan sampah di negeri ini jika tidak dilakukan dengan membuat kebijakan-kebijakan yang luar biasa, akan terus meningkat tajam persoalan sampah tersebut. Maka dari itu, berbagai macam cara, metode, dan edukasi terkait penggunaan barang sekali     pakai menjadi bagian penting dari menekan laju peningkatan volume sampah. Apalagi sampah plastik. Itu sangat berbahaya dan dapat merusak lingkungan.

Pemanfaatan Sampah Menjadi Energi di Luar Negeri

Banyak negara telah melakukan inovasi dalam hal memanajemen sampah yang dihasilkan dari populasi penduduknya. Inovasi tersebut sangat berguna sekali dalam penekanan dampak dari meningkatnya populasi sampah tersebut. Dilansir website suneducationgroup.com. Swedia menjadi salah satu negara dengan inovasi pengelolaan sampah nya terbaik. Metode-metode yang dilakukan di negara tersebut diantaranya adalah mengolah atau mendaur ulang sampah-sampah yang masih bisa di daur, Memberdayakaan kembali sampah-sampah yang masih bisa digunakan. Selain itu, ada metode yang dinamakan “pant system”.

Pant system merupakan reward yang diberikan pemerintah dalam bentuk uang kepada masyarakatnya yang ikut membantu menekan laju volume sampah. Caranya dengan menaruh botol atau kaleng bekas ke tempat daur ulang atau mesin daur ulang yang sudah disediakan. Selain itu, pemerintah juga mengkomunikasikan kepada setiap produsen yang barang-barang berpotensi limbah. Dalam skala atau bidang energi, Swedia menerapkan “Waste-to-Energy”. Sistem tersebut adalah sistem pembakaran sampah dengan suhu tinggi dan menghasilkan energi listrik atau panas (Gambar 2).

Hal itu cukup signifikan dalam menekan laju volume sampah dikarenakan lebih dari lima puluh persen jumlah sampah berhasil diubah menjadi energi. Selain Swedia, ada negara Israel. Di Israel, pemerintah menekan jumlah peningkatan volume sampah dengan cara “memahalkan” kantong-kantong plastik. Secara tidak langsung, pemerintah menginstruksikan warganya untuk beralih dari pemakaian plastik. Beda cerita di negara jepang. Jepang melakukan metode dengan cara menyortir yang terbilang rumit. Kenapa rumit, dikarenakan setiap warga dibekali 27 tempat sampah berbeda. Hal itu dilakukan agar tim daur ulang mudah dalam bekerja dan bisa berpacu dengan waktu.

Di Belanda, sampah-sampah yang ada di jadikan sebagai sumber energi listrik.

Mengelola Sampah Menjadi Energi, Siapkah Indonesia? Belajar Energi
Gambar 2. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (sumber: wikimedia.org)

Pemanfaatan Sampah Menjadi Energi di Indonesia

Pemanfaatan sampah di Indonesia sebenarnya juga sudah banyak inovasi-inovasinya. Selain daur ulang dan berkreasi dari sampah, barang-barang yang menurutnya masih mempunyai nilai ekonomis akan dijual lagi. Sedikit di perbaiki akan mempunyai nilai ekonomis kembali. Selain itu, pemanfaatan yang dilakukan adalah mengkonversi sampah menjadi energi listrik. Skala sampah kota saja berpotensi menghasilkan energi listrik sebesar 2.000 MW.

Tetapi, dampak yang dihasilkan dari pembakaran sampah juga cukup membahayakan. Selain itu, investasi nya juga tidak bisa sedikit. Bisa dipastikan akan menyedot anggaran yang cukup besar untuk membuat itu. Banyak dari aktivis-aktivis lingkungan menolak dengan keras untuk mengkonversi sampah menjadi energi listrik. Di samping sangat membahayakan bagi umat manusia, lingkungan pun akan terkena dampak rusaknya.

Jika dilihat dari sisi positifnya. Memang pemanfaatan sampah menjadi energi listrik menjadi inovasi yang cukup bagus. Di samping menekan laju volume sampah, juga mendapatkan energi listrik yang cukup berguna. Jika dilihat dari sudut negatifnya, lingkungan dan kesehatan menjadi taruhannya. Kompleksitas seperti ini yang cukup sulit untuk dilaksanakan. Pemerintah sendiri terus berupaya membuat payung hukum agar pemanfaatan sampah menjadi tenaga listrik berhasil dilaksanakan demi peningkatan pangsa EBT dalam bauran energi primer pembangkit listrik.

Baca juga: Kondisi Ketenagalistrikan Indonesia dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2019-2038 

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, terdapat rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 12 kota dalam kurun waktu 2019-2022. Surabaya menjadi kota yang paling siap untuk mengubah sampah menjadi energi listrik. Surabaya akan memusnahkan 1.500 sampah dalam sehari untuk pemanfaatan tersebut. Diperkirakan PLTSa yang dihasilkan sekitar 10 MW dengan nilai investasi sekitar US$ 49,86 juta.

Selanjutnya adalah Bekasi yang memiliki potensi sebesar 9 MW dengan investasi sekitar US$ 120 juta. Kemudian ada pula Palembang (20 MW), Denpasar (20 MW), dan Surakarta (10 MW) yang memilki total sampah sebanyak 2.800 ton per hari membutuhkan investasi sekitar US$ 297,82 juta.

Ada pula di Jakarta yang volume sampahnya mencapai 7.000 ton per hari membutuhkan investasi sebesar US$ 345,8 juta untuk kapasitas 38 MW dan Bandung untuk kapasitas 29 MW dengan investasi sebesar US$ 245 juta. Sisanya adalah Tangerang Selatan, Manado, Makassar dengan kapasitas masing-masing sebesar 20 MW dan investasi masing-masing sebesar US$ 120 juta.

Pengelolaan sampah plastik untuk segi teknologinya memang masih sangat mahal sehingga realisasinya sedikit mengalami kendala. Namun, cepat atau lambat permasalahan sampah seperti ini haru segera diselesaikan karena sampah tersebut akan membentuk gunung dan membuat kesehatan masyarakat terganggu apabila didiamkan.

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Andriah Febby Misna memaparkan bahwa negara ini mempunyai potensi besar dalam penanganan sampah menjadi energi listik. Dari situ bisa disimpulkan memang pemerintah menginginkan konversi sampah menjadi energi listik.

Penulis: Muchamad Raffi Akbar

Editor: Riko Susetia Yuda


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •