Oktober 21, 2021

Belajar Energi

BelajarEnergi.com – Belajar Energi adalah Hak Segala Bangsa

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Pengelolaan Energi Global

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Pengelolaan Energi Global

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BelajarEnergi.com – Tahun 2020 bisa dikatakan sebagai tahun yang berat dalam satu abad terakhir bagi seluruh masyarakat dunia. Munculnya pandemi covid-19 yang berawal dari negara China kemudian menyebar ke seluruh dunia, melumpuhkan segala sektor baik itu ekonomi, pendidikan, bahkan tak terkecuali energi. Dampak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) maupun karantina wilayah (lockdown) menyebabkan aktivitas ekonomi menjadi lesu, pendidikan tatap muka harus terhenti, dan kebutuhan energi menjadi sangat berkurang.

Kebutuhan energi yang berkurang tersebut menyebabkan suplai di pasar menjadi berlebih yang mengakibatkan anjloknya harga komoditas sumber energi seperti batubara, minyak bumi dan gas bumi. Bahkan pada April 2020 lalu, harga minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) sempat anjlok mencapai -40,32 dollar per barel untuk pengiriman Mei 2020. Banyak pula perusahaan-perusahaan migas mengalami kerugian yang besar akibat harga jual yang sangat rendah tersebut. Hal ini memicu banyak dihentikannya aktivitas eksplorasi migas tersebut di seluruh dunia.

Disrupsi Besar pada Sistem Energi Global

Pandemi Covid-19 menyebabkan disrupsi besar terhadap pengelolaan energi dibandingkan  peristiwa sejarah lainnya yang dampaknya akan terus dirasakan pada tahun-tahun yang akan datang. Pada survey yang dilakukan oleh World Energy Council (WEC) menyebutkan bahwa terdapat tiga dampak kunci dalam pengelolaan energi yaitu berkurangnya permintaan (kebutuhan), masalah likuiditas finansial, dan pergeseran cara bekerja menjadi lebih ke arah digitalisasi. Penilaian WEC (2020) juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2020 ini permintaan energi global turun sebesar 5%, emisi CO2 berkurang 7% dan investasi energi berkurang 18%.

Perkiraan penurunan permintaan minyak bumi sebesar 8% dan penggunaan batubara sebesar 7% akan berdampak pada sedikit kenaikan penggunaan pada energi terbarukan. Kebutuhan gas alam juga berkurang sekitar 3% yang juga diikuti oleh kebutuhan listrik global yang menurun sebesar 2%. Penurunan sebesar 2,4 gigaton (GT) ini menghasilkan emisi CO2 ­tahunan seperti pada satu dekade yang lalu.

WEC memperkirakan bahwa kebutuhan energi global akan mengalami pemulihan kembali ke tingkat sebelum pandemi pada awal tahun 2023 dengan catatan pada tahun 2021 pandemi dapat diatasi. Namun dapat tertunda hingga 2025 jika pandemi global masih berkepanjangan. Akibat dari krisis kesahatan saat ini, WEC juga memproyeksikan kebutuhan energi dapat tumbuh sebesar 9% antara 2019 hingga 2030, namun dengan skenario terburuknya hanya dapat tumbuh sebesar 4%. Perlambatan kebutuhan energi global dapat semakin menekan harga minyak dan gas bumi dibandingkan peristiwa sebelum pandemi, walaupun anjloknya investasi di tahun 2020 juga meningkatkan kemungkinan volatilitas pasar di masa depan.

Dampak terburuk dari pandemi Covid-19 terhadap pengelolaan energi akan sangat terasa bagi kelompok rentan seperti yang terjadi pada masyarakat tanpa akses kelistrikkan di berbagai belahan dunia. Di sub-Sahara Afrika, masih terdapat sekitar 580 juta orang yang belum mendapatkan akses listrik pada tahun 2019, sepertiga dari total dunia, dan hal ini akan meningkat di tahun 2020. Pemerintah pun dinilai akan lebih berfokus pada pemulihan kesehatan publik dan krisis ekonomi. WEC memperkirakan bahwa kenaikan tingkat kemiskinan global dapat menyebabkan pelayanan listrik dasar menjadi tidak terjangkau bagi lebih dari 100 juta orang yang sebelumnya sudah menikmati listrik, sehingga mendorong mereka untuk kembali menggunakan barang-barang yang tidak ramah lingkungan dan tidak efisien dari segi energinya.

Energi Fosil Mulai Ditinggalkan?

Masih berdasarkan WEO 2020, permintaan batubara tidak akan kembali ke tingkat sebelum pandemi dan pangsa pasarnya pada 2040 akan turun di bawah 20% untuk pertama kalinya sejak revolusi industri. Kebijakan penghapusan bertahap dari batubara, meningkatnya penggunaan energi terbarukan dan persaingan dari gas alam menyebabkan hilangnya 275 GW dari pembangkit listrik tenaga batubara di seluruh dunia pada 2025 (13% dari total di tahun 2019), termasuk 100 GW di Amerika Serikat dan 75 GW di Uni Eropa. Proyeksi peningkatan kebutuhan batubara di negara berkembang di Asia juga diperkirakan lebih rendah daripada skenario sebelum pandemi. Pangsa pasar batubara dalam pembangkit listrik global akan turun dari 37% di tahun 2019 menjadi 28% di tahun 2030 yang kemudian semakin menurun menjadi 20% di tahun 2040 seperti yang sudah diutarakan sebelumnya.

Hal yang sama juga terjadi pada minyak bumi, yang mana juga akan mengalami penurunan di tahun 2030. Perlambatan ekonomi yang berkepanjangan menyebabkan penurunan kebutuhan minyak bumi menjadi lebih dari 4 juta barel per hari. Hal ini disebabkan perubahan perilaku masyarakat akibat pandemi seperti harus belajar dan bekerja dari rumah maupun menghindari perjalanan pariwisata.

Peristiwa berbeda terjadi pada gas alam, namun perbedaan kebijakan tiap negara menghasilkan berbagai variasi hasil. Kebutuhan gas alam diproyeksikan naik 30% di tahun 2040 yang terpusat pada Asia Timur dan Selatan. Prioritas kebijakan pada wilayah tersebut yaitu mendorong perbaikan kualitas udara dan mendukung pertumbuhan pada industri manufaktur karena rendahnya biaya pemanfaatan gas alam. Di negara maju pun, proyeksi kebutuhan gas alam hanya mengalami sedikit penurunan di tahun 2040.

Namun hal ini juga menjadi dilema besar yang dihadapi oleh produsen migas dunia. Anjloknya harga jual dan menurunnya permintaan akibat dari pandemi, telah memutuskan seperempat nilai dari masa depan produksi migas. Banyak produsen migas terutama di Timur Tengah dan Afrika seperti Irak dan Nigeria, menghadapi tekanan fiskal yang besar akibat dari ketergantungan yang tinggi pada pendapatan hidrokarbon. Industri hidrokarbon serpih Amerika Serikat pun pastinya akan tertekan karena kemudahan paket kredit mengalami kemacetan. Sejauh ini di tahun 2020, perusahaan-perusahaan migas terbesar telah mengurangi asetnya hingga lebih dari 50 miliar dollar. Hal ini tentu saja menyebabkan investasi pada migas akan turun sepertiganya dibandingkan di tahun 2019.

Tumbuh Pesatnya Energi Terbarukan Pasca Pandemi

Energi terbarukan akan tumbuh dengan pesat pasca pandemi dengan energi surya sebagai primadona teknologi pembangkit listrik di masa depan. Kebijakan yang mendukung dan teknologi yang matang akan menciptakan akses yang sangat murah terhadap modal dalam meraup pasar. Dengan pengurangan biaya yang besar selama satu dekade terakhir, panel surya fotovoltaik secara konsisten menjadi lebih murah daripada pembangkit listrik tenaga batubara dan minyak bumi di banyak negara, bahkan proyek energi surya saat ini menghasilkan biaya listrik paling rendah dari yang pernah ada. Dalam skenario World Energy Outlook (WEO)2020, energi terbarukan akan mencapai 80% dalam pertumbuhan kebutuhan energi listrik hingga 2030. Energi air (hidro) tetap menjadi sumberdaya energi terbarukan terbesar, namun energi surya adalah penggerak utama dalam pertumbuhan energi setelah tahun 2022, diikuti oleh energi angin darat maupun lepas pantai.

Kemajuan sumberdaya pembangkit dan sumberdaya surya secara khusus, juga akan diikuti oleh energi nuklir. Cepatnya perubahan dalam sektor ketenagalistrikkan menciptakan tambahan pilihan pada jaringan yang terhubung dan sumberdaya lainnya yang lebih fleksibel, selama terdapat suplai dari bahan mineral dan logam yang penting untuk mengamankan transformasi tersebut. Tempat penyimpanan energi memegang peran penting dalam memastikan pengoperasian yang fleksibel dari sistem pembangkit tersebut, dengan India menjadi pasar terbesar dalam pemanfaatan baterai penyimpan berskala besar.

Perubahan langkah dalam investasi energi bersih, sejalan dengan International Energy Agency (IEA) Sustainable Recovery Plan, yang mana menawarkan cara untuk menggenjot pemulihan ekonomi global, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi emisi. Tambahan investasi sebesar 1 triliun dollar selama 2021-2023 akan menciptakan perbaikan dalam efisiensi, pembangkit energi rendah emisi, jaringan ketenagalistrikkan, dan bahan bakar yang lebih berkelanjutan. Hal ini menandakan tahun 2019 sebagai puncak emisi global tertinggi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut kajian dari BPPT dalam Outlook Energi Indonesia 2020, sektor energi di Indonesia yang juga ikut terdampak pandemi covid-19 dapat dimodelkan dengan aplikasi Low Emissions Analysis Platform (LEAP). LEAP adalah aplikasi terintegrasi yang dapat melakukan pemodelan berbasis skenario untuk analisis kebijakan energi dan kajian mitigas perubahan iklim akibat dari sektor energi maupun non energi. Wahid (2020) membuat empat skenario yang merepresentasikan keadaan sosial masyarakat selama pandemi dalam kondisi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity) yaitu skenario BAU (Business As Usual), OPT (optimis), MOD (moderat), dan PES (pesimis). Skenario BAU adalah keadaan saat tidak terjadi pandemi dengan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2020 mencapai 5,05%. Skenario OPT adalah keadaan saat kebijakan PSBB berlaku selama 3 bulan dengan penyebaran virus yang berangsur menurun dan pertumbuhan ekonomi mencapai 2,3%. Skenario MOD adalah keadaan saat kebijakan PSBB berlaku selama 6 bulan dengan penyebaran virus menurun lambat dan pertumbuhan ekonomi mencapai -0,4%. Skenario PES adalah keadaan saat kebijakan PSBB berlaku selama 12 bulan dengan penyebaran virus terjadi cukup lama dan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai -3,5%.

Menurut Tempo.co pada 5 November 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal 3 berdasarkan publikasi BPS tercatat mencapai -3,49%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia per November 2020 memasuki skenario PES, walaupun kebijakan PSBB-nya masih menginjak bulan ke-6 (skenario MOD). BPPT dalam Outlook Energi Indonesia 2020 memperkirakan bahwa kebutuhan energi nasional akan mengalami penurunan sekitar 11,0% (skenario MOD) dan 20,5% (skenario PES) atau mengalami penurunan sekitar 103,1 – 199,2 juta setara barel minyak (SBM). Penurunan kebutuhan energi ini berlaku untuk berbagai sektor stimulus ekonomi utama yaitu komersial, transportasi, industri dan sektor lainnya, namun tidak berlaku bagi sektor rumah tangga karena justru mengalami kenaikan akibat semakin banyaknya orang yang berkegiatan di rumah (Gambar 1).

Kebutuhan energi per sektor pengguna (BPPT, 2020)
Gambar 1. Kebutuhan energi per sektor pengguna (BPPT, 2020)

Secara terperinci, sektor industri mengalami penurunan kebutuhan energi sebesar 13,3 – 25,6% atau sekitar 45,9 – 88,5 juta SBM. Sektor transportasi mengalami penurunan sebesar 12,8 – 23,4% atau sekitar 54,1 – 98,5 juta SBM. Sektor komersial mengalami penurunan sebesar 15,0-29,5% atau sekitar 7,4 – 14,5 juta SBM. Sektor lainnya seperti konstruksi, pertambangan, dan pertanian-perkebunan mengalami penurunan sebesar 14,2 – 27,2% atau sekitar 2,4 – 4,6 juta SBM. Adapun sektor rumah tangga mengalami kenaikan sebesar 1,6 – 4,9% atau sekitar 2,3 – 6,9 juta SBM.

Jika berdasarkan jenis energinya, pada tahun 2020 ini diperkirakan tidak ada perubahan kebutuhan energi (Gambar 2). Namun, tidak berlaku bagi LPG yang justru mengalami kenaikan yang mana sejalan dengan sektor rumah tangga yang telah disebutkan di atas. Secara terperinci, bahan bakar minyak (BBM) mengalami penurunan sebesar 12,9 – 23,6% atau sekitar 55,7 – 102,1 juta SBM. Listrik mengalami penurunan sebesar 7,8 – 14,4% atau sekitar 13,0 – 23,9 juta SBM. Bahan Bakar Nabati mengalami penurunan sebesar 13,3 – 24,6% atau sekitar 6,6 – 12,3 juta SBM. Batubara mengalami penurunan sebesar 14,3 – 27,5% atau sekitar 14,9 – 28,6 juta SBM. Gas mengalami penurunan sebesar 10,8 – 21,0% atau sekitar 11,0 – 21,5 juta SBM. LPG mengalami kenaikan sebesar 0,9 – 3,3% atau sekitar 0,6 – 2,4 juta SBM. Biomassa mengalami penurunan sebesar 7,8 – 14,4% atau sekitar 13,0 – 23,9 juta SBM.

Kebutuhan energi per jenis energi (BPPT, 2020)
Gambar 2 . Kebutuhan energi per jenis energi (BPPT, 2020)

Adapun untuk jenis energi baru terbarukan, pandemi juga memberikan dampak yang besar yaitu diperkirakan akan menyebabkan penurunan sebesar 9,9 – 15,3% atau sekitar 23,6 – 36,6 juta SBM (Gambar 3). Lebih lanjut, dalam skenario PES pada tahun 2021 akan terus menurun hingga 16,4% dan baru kembali ke jalur semula pada tahun 2023. Penyediaan EBT dalam rencana penambahan kapasitas pembangkit listrik EBT terjadi penundaan pembangunan maupun pengurangan kapasitas pembangkit yang akan dibangun. Anjloknya harga minyak mentah dunia juga menjadi kendala pengembangan EBT.

Baca juga: Kondisi Ketenagalistrikan Indonesia dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2019-2038

Skenario penyediaan EBT (BPPT, 2020)
Gambar 3. Skenario penyediaan EBT (BPPT, 2020)

Penulis: Riko Susetia Yuda


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •