Juli 24, 2021

Belajar Energi

BelajarEnergi.com – Belajar Energi adalah Hak Segala Bangsa

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro di Huisgill Burn above Talisker Farm (geograph.co.uk)

Punya Potensi 19,3 GW, Yuk Intip Minihidro dan Mikrohidro di Indonesia!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BelajarEnergi.com – Negara Indonesia dilimpahi rahmat yang sangat besar dari berbagai sumber daya alamnya. Sungai-sungai di Indonesia begitu banyak dan besar. Dari banyaknya sungai yang ada, sungai tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sektor yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Selama ini, sungai memang sering kali dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan-keperluannya. Tapi ada hal lain yang patut kita ketahui bersama terkait manfaat lain yang berefek begitu besar dalam kelangsungan hidup di masyarakat.

Manfaat lain yang bisa diperoleh dari sungai adalah pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro dan Mikrohidro (PLTM/H). PLTM/H sendiri dapat berfungsi sebagai penunjang keberadaan listrik bagi warga. Dengan adanya PLTM/H, diharapkan juga mampu menunjang sektor-sektor lainnya. Seperti kita ketahui bersama, Indonesia merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ke-5 di dunia. Agar kita tahu info lebih lanjutnya, mari kita bahas ya di bawah ini.

Apa itu Minihidro dan Mikrohidro?

Menurut renewablesfirst.co.uk, minihidro dan mikrohidro merupakan sebuah instalasi untuk pembangkit listrik dengan ukuran daya antara 5 kW hingga 1 MW. Mikrohidro sendiri berukuran daya antara 5 kW hingga 100 kW dengan jumlah rumah yang dapat teraliri listrik yaitu 5-100 rumah. Minihidro berukuran daya antara 100 kW hingga 1 MW dengan jumlah rumah yang dapat teraliri listrik yaitu 100-1.000 rumah. Sumber daya yang diperlukan dalam sebuah instalasi pembangkit listrik ini adalah aliran air. Aliran air tersebut dimanfaatkan tenaganya untuk menghasilkan listrik yang cukup. Di sisi lain, nama teknologi yang dipakai dalam pemrosesan tersebut bernama Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro dan Mikrohidro (PLTM/H). PLTM/H sendiri adalah teknologi yang memanfaatkan debit air dan diubah menjadi energi listrik.

Energi listrik yang dihasilkan tentu saja dapat berguna dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Walaupun skalanya tidak terlalu besar, setidaknya masyarakat bisa secara mandiri memperoleh aliran listrik untuk rumah mereka masing-masing. Kapasitas sendiri bergantung pada kapasitas aliran dan ketinggian. Semakin besar kapasitas dan ketinggiannya, maka semakin besar juga energi yang akan dihasilkan.

Cara Kerja Minihidro dan Mikrohidro

Tata cara kerja atau cara proses Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro dan Mikrohidro (PLTM/H) sendiri sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia Nomor 09/PRT/M/2016 tentang  cara pelaksanaan kerjasama pemerintah dan badan usaha dalam pemanfaatan infrastruktur sumber daya air untuk PLTM/H. Pada dasarnya, prinsip  kerjanya adalah memanfaatkan antara ketinggian dan jumlah debit air per detiknya di aliran air saluran sungai. Aliran air tersebut akan memutar poros turbin sampai menghasilkan energi mekanik. Nah energi tersebut yang selanjutnya akan menggerakan turbin.

Kemudian turbin dihubungkan dengan generator dan akan menghasilkan listrik. Listrik yang dihasilkan akan dialirkan kerumah-rumah warga dengan memasang pengaman (sekring). Nah dari cara kerja yang sudah kita pelajari, tersimpulkan bahwa skenario kerja tersebut memerlukan dua hal yaitu debit air dan ketinggian jatuh. Turbin dan generator dapat dihubungkan melalui belt (jenis sambungan sabuk) atau sistem gear box.

Sedikit informasi, bahwa jenis sabuk yang digunakan PLTM/H skala besar adalah jenis flat belt dan V-belt untuk skala di bawah 20 kW.

Komponen-Komponen PLTM/H

Dalam membuat PLTM/H, ada beberapa komponen yang harus dipenuhi demi menunjangnya kinerja dari pembangkit listrik tersebut. Pertama, ada yang bernama “Bendungan Pengalih”. Bendungan pengalih merupakan bendungan yang mengalihkan seluruh atau sebagian aliran dari sungai. Nah pengalihan air tersebut biasanya langsung di alihkan pada sebuah kanal yang bisa digunakan untuk irigasi atau kembali ke sungai.

Kedua, ada yang namanya “Saluran Pembawa”. Saluran pembawa atau biasa disebut saluran irigasi merupakan prasarana irigasi yang berfungsi mengambil air dari sumber air. Saluran ini juga berfungsi membawa dan mengalirkan air. Ketiga adalah “Bak Pengendap”. Bak pengendap ini mempunyai fungsi untuk memisahkan pertikel-partikel pasir dari air.

Keempat adalah “Bak penenang”. Bak penenang berfungsi sebagai pencegah turbulensi air sebelum diterjunkan melalui pipa pesat. Kemudian yang terakhir adalah “Pipa Pesat”. Pipa pesat merupakan saluran atau juga terowongan yang berfungsi untuk menghubungkan bak penampung ke turbin di area gedung pembangkit listrik.

Pemanfaatan secara Umum

Pemanfaatan minihidro dan mikrohidro secara umum adalah untuk tenaga listrik. Listrik yang bisa di manfaatkan energinya untuk masyarakat umum. Selain itu juga, sebagai salah satu sarana penerangan yang selama ini masih sangat sulit di daerah-daerah yang kurang terjangkau. Bisa juga sebagai salah satu sumber penggerak usaha yang memang memerlukan tenaga listrik. Seperti usaha bengkel, pabrik-pabrik oalahan rumahan, dan banyak UKM yang bisa terbantu dengan adanya mikrohidro ini.

Mari kita lihat sedikit di negara lain yang sudah memanfaatkan Pembangkit listrik tersebut. Adalah negara belanda yang sudah sejak lama memanfaatkan air sebagai salah satu sumber pembangkit listriknya. Lokasi tersebut tepat di kota maurik bagian utara. Pembangkit listrik tenaga mini hidro tersebut berkapasitas 10 MW. Pembangkit tersebut mulai di operasikan sejak 1988.

Pembangkit tersebut memanfaatkan aliran air sungai Rhine di provinsi gelderland. Dari pembangkit listrik ini bisa mengaliri energi ke warga dengan jumlah total mencapai 8.000 rumah tangga. Energi yang dihasilkan mencapai 25 juta kWh.

Potensi Minihidro dan Mikrohidro di Indonesia dan Pemanfaatannya saat ini

Menurut data Renstra EBTKE 2020-2024 Kementerian ESDM, Indonesia memiliki potensi sumber daya energi minihidro dan mikrohidro yang sangat besar yaitu mencapai 19.385 MW. Potensi terbesar berada di provinsi Kalimantan Timur yaitu sebesar 3.562 MW dan terkecil adalah Papua Barat yaitu sebesar 3 MW (Tabel 1). Namun, pemanfaatan saat ini Minihidro dan Mikrohidro masih tergolong kecil yaitu hanya sebesar 410,63 MW atau sekitar 2,11 % dari total potensi yang ada. Lebih rinci, Direktorat Aneka EBT Kementerian ESDM menyebutkan bahwa pada tahun 2014 hingga 2018, PLTM/H telah berhasil dibangun sebanyak 27 unit yang mana menghasilkan total kapasitas sebesar 1,443 MW.

Potensi sumber daya energi minihidro dan mikrohidro di Indonesia (KESDM, 2020)
Tabel 1. Potensi sumber daya energi minihidro dan mikrohidro di Indonesia (KESDM, 2020)

Baca juga: Wow! Indonesia Kaya Potensi Energi Baru Terbarukan hingga 508 GW!

Pemanfaatan terkait mikrohidro sudah dilakukan di beberapa tempat. Salah satu tempat yang sudah memanfaatkan teknologi tersebut adalah perusahaan turbulensi yang berlokasi di Bali. Perusahaan tersebut memasang teknologi mikrohidro di sekolah hijau pada turbin vortex bali. Pembangkit tersebut sangat berguna untuk siswa di sekolah dan para petani di sekitarnya. Namun, ketinggian air yang dicapai hanya 1,85 m saja.

Di daerah lain, tepatnya di desa Kawindai Toi, Nusa Tenggara Barat. Kementrian Energi dan sumber daya mineral resmi meperkenalkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Proyek tersebut bernilai hingga 6,4 miliar rupiah. Energi yang dapat dihasilkan berjumlah 100 kW dan di proyeksikan dapat mengaliri listrik ke rumah-rumah warga dengan jumlah 150 rumah.

Kekurangan dan Dampak yang Dihasilkan

Sisi lain dari minihidro dan mikrohidro memang belum terlalu banyak dilihat. Namun, walaupun terbilang murah dan tidak terlalu sulit dalam membuatnya, mikrohidro juga ada kekurangannya loh. Walaupun biaya operasionalnya murah, tetapi mikrohidro terbilang cukup mahal dalam investasinya. Kenapa begitu? Karena suku cadangnya cukup mahal harganya.

Mikrohidro juga tidak bisa terlalu jauh dari masyarakat karena daya listriknya akan berkurang dalam jumlah yang banyak dan bisa jadi tidak ekonomis ataupun menimbulkan kerugian. Hal yang disarankan dalam penentuan jarak antara mikrohidro dan masyarakat maksimal 2 Kilometer. Apabila musim kemarau tiba, bisa jadi kekeringan muncul dan debit air menjadi berkurang. Hal ini bisa menyebabkan daya listrik yang dikeluarkan menjadi berkurang sedangkan pemakaian untuk aktivitas sehari-hari tidak berkurang.

Dampak yang dihasilkan pasti ada yaitu terhadap ekosistem-ekosistem yang berada pada sekitaran pembangunan PLTM/H dibuat. Pendiri PLTM/H tersebut harus memastikan bahwa pembangunannya tidak membuat ikan-ikan atau tumbuhan yang berada di sekitar tempat pembangunan terdampak. Bisa saja mereka mati karena ada yang salah pada pembangunan PLTM/H tersebut. Oleh sebab itu, perlu adanya kajian terlebih dahulu terkait letak posisi pembangunan dengan dampak yang akan terjadi pada ekosistem sekitarnya.

Penulis: Muchamad Raffi Akbar

Editor: Riko Susetia Yuda


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •